Home / Diskusi & Seminar / Seminar Pertemuan Tahunan WGWC dan Konferensi Nasional “Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan” Membaca Trend Baru

Seminar Pertemuan Tahunan WGWC dan Konferensi Nasional “Perempuan dan Pencegahan Ekstremisme Kekerasan” Membaca Trend Baru

 

Working Group On Women & Preventing/Countering Violent Extremism (WGWC)”Perempuan dan Ekstrimisme Kekerasan”

Jakarta, 9 Maret 2020-Apa kaitannya antaraperempuan dan ekstremisme kekerasan? Dengan memberdayakan perempuan, kita, pada gilirannya, memberdayakan komunitas mereka dan mengubah dinamika ruang-ruang, yang mengarah pada promosi perdamaian, toleransi, dan rasa hormat, yang pada akhirnya, berpotensi menjadi penghalang paling kuat bagi interpretasi

Sebanyak 24 lembaga, baik pemerintah dan CSO yang tergabung dalam Working Group on Women and Preventing/ Countering Violent Extremism (WGWC) percaya jika perspektif
gender diterapkan dengan maksimal dan menjadikan gender equality dan pemberdayaan perempuan dalam strategi nasional, maka kebijakan dan intervensi program akan lebih efektif dan menyasar kepada pihak yang tepat. Setelah dua tahun melakukan konsolidasi
gerakan di tingkat nasional dan daerah, kini WGWC ingin hadir di tengah publik dengan menyuguhkan berbagai kebaharuan isu maupun intervensi dalam konteks perempuan dan
PCVE dalam bentuk Konferensi Nasional tentang “Perempuan dan Ekstrimisme Kekerasan:
Membaca Trend Baru”.

Forum ini menjadi ruang pertukaran sekaligus pembelajaran penting dari praktik-praktik baik yang telah dilakukan untuk para akademisi, praktisi, pengambil kebijakan dan media terkait dengan update trend isu-isu terbaru, kebijakan, dan gerakan masyarakat sipil untuk memperkuat resilience komunitas, mendukung rehabiltiasi dan reintegrasi, dimana keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam radikalisme dan ekstrimisme kekerasan mengkhawatirkan. Untuk partner WGWC, forum ini akan mereview perjalanan WGWC selama dua tahun terakhir melakukan konsolidasi gerakan perempuan dan ekstrimisme kekerasan di nasional dan daerah dalam upaya memperkuat analisis dan kapasitas menangkal radikalisme dan ekstrimisme.

Beberapa bulan lalu, publik media sosial dibanjiri dengan pro dan kontra wacana mengenai pwmulangan Warga Negara Indonesia (WNl) yang terlibat dalam konflik di Suriah dan Irak. Sebagian warga Indonesia yang menolak melihat arus balik ini akan menimbulkan banyak risiko buruk bagi kehidupan berbangsa. Pasalnya mereka yang sudah tergabung dengan ISIS, apalagi para kombatan, memiliki ideologi teroris dan ketrampilan perang yang dikhawatirkan akan menyuburkan aksi-aksi teror di dalam negeri. Negara harus memastikan bahwa ketersediaan sumber daya dan infrastruktur pemulangan WNI eks ISIS tidak menimbulkan masalah baru di dalam negeri. Sementara mereka yang mewacanakan untuk menerima para WNI yang di Syria dan Irak karena alasan kemanusiaan. Ini karena ada banyak perempuan dan anak-anak yang tidak dalam kategori kombatan terlantar dan hidup dalam kondisi yang tidak layak, sehingga mengancam kesehatan dan keselamatan mereka. Akhimya pro dan kontra berakhir dengan keputusan pemerintah yang mencakup tiga hal yaitu;

1)Negara tidak memulangkan ISIS eks WNI;
2) Negara akan melakukan veriflkasi data untuk mengambil langkah case by case dalam merespon kelompok rentan perempuan dan anak-anak;
3) Negara sedang menentukan langkah-langkah perlindungan warga negara.

Meski demikian kelompok rentan perempuan dan anak-anak tidak boleh dipandang sebelah mata
Mereka boleh menjadi agen yang aktif, sama seperti laki-laki dalam melakukan upaya perekrutan dan menjadi “executor” sebagai pengantin atau mesin pembunuh yang handal. Seperti yang di laporkan oleh Media Indonesia, pada tanggal 19 Maret 2019, dilaporkan dengan laki-laki. Misalnya dalam kasus penembakan keterlibatan perempuan sama militannya dengan laki-laki.Misalnya dalam kasus penembakan terhadap umat muslim yang tengah melakukan salat Jumat di dua masjid di Selandia baru,misalnya,salah satu teroris yang menewaskan 50 orang yang tidak berdosa itu dilaporkan ialah seorang perempuan.

Cerita penangkapan Husain alias Abu Hamzah terduga teroris di Sibolga, Sumatera Utara yang berhasil ditangkap hidup-hidup oleh Densus 88 Mabes Polri pada penggerebekan, 12 Maret 2019. dilaporkan justru sang istri yang tidak mau menyerah. Negosiasi selama 10 jam lebih yang dilakukan aparat dan tokoh masyarakat tidak membuahkan hasil. Alih-alih menyerah, bersama dua anaknya, istri Abu Hamzah lebih memilih mati daripada menyerahkan diri ke aparat. Perempuan yang sebelumnya tidak dikenal dan tidak diperkirakan berani bertindak radikal itu, tanpa diduga memilih meledakkan diri sembari membawa dua orang anaknya. Seperti diakui Abu Hamzah bahwa istrinya memang cenderung lebih ekstrem terpapar paham radikalisme ISIS sehingga daripada menyerahkan diri, ia lebih memilih mati bunuh diri sebagai jihadis yang teguh memperjuangkan prinsipnya yang keliru.

Key Note Speech

1. Mengapa Perempuan — Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme
2. Populisme, Radikalisme dan Gender —- Prof. Ruhaini Zuhayatin, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Moderator: Suraiya Kamaruzzaman, Balaisyura Aceh / FKPT Aceh
– Gender Maintreaming dalam Kebijakan Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme
(Sesi ini membahas tentang kebijakan-kebijakan yang secara langsung maupun tidak langsung bisa dipakai untuk penanggulangan ekstrimisme kekerasan dari perspektif masyarakat sipil. Juga melihat ancaman di internal negara
sendiri terkait dengan penyebaran radikalisme di tubuh negara)
1. RAN Penanggulangan Ekstrimisme: Sudahkah Sensitif Gender? ( Mujtaba Hamdi, Wahid Foundation)
2. Integrasi PVE dalam Women Peace and Security: RAN P3AKS sebagai — (Ruby Kholifah, AMAN Indonesia)
3. Menakar Kebijakan Rehabilitasi dan Reintegrasi: Apakah Mampu Menjawab Arus Balik Perempuan dan Anak-Anak Eks ISIS? (Mira Kusumarini, CSAVE)
4. Ancaman Radikalisme di Kalangan Asparatur Sipil Negara — Hassanudin Ali, Alvara
Moderator: Dr. Pribadi Sutiono, Asisten Deputi Kerjasama Asia Pasific dan Afrika, Kementerian Kordinator Politik,
Hukum dan Keamanan

Acara ini bertujuan untuk mengeksplorasi area-area baru isu ekstremisme kekerasan yang tidak banyak mendapatkan perhatian. Konferensi juga menyuguhkan praktek-praktek terbaik di komunitas yang dianggap cukup sukses untuk melakukan upaya pencegahan dan kontra radikalisme dan ekstrimisme kekerasan.

About admin

Check Also

Sustainble Energy For Indonesia Seminar Nasional 9 Forum Energizing Indonesia

Kabarindotimur.id-Jakarta, 4 Maret 2020-Sustainble Energy For Indonesia Seminar Nasional 9 Forum Energizing Indonesia yang berlangsung …