Home / Diskusi & Seminar / BAKORNAS LEMI HMI Dalam Diskusi Publik”Instabilitasi Negara, Dampaknya Terhadap Perekonomian”

BAKORNAS LEMI HMI Dalam Diskusi Publik”Instabilitasi Negara, Dampaknya Terhadap Perekonomian”

Kabarindotimur.id-Jakarta, 18 Oktober 2019-Diskusi Publik”Instabilitasi Negara,
Dampaknya Terhadap Perekonomian”.Acara diskusi ini diadakan di hotel aliya cikini menteng jakarta pusat.

Narasumber :
-Prof. Dr. Hoga Saragih, ST, MT.
-Bima Yudhistira Adhinegara (Ekonomi INDEF)
-Peni Rahmadani (Trainer Pasar Modal Syariah IndoPremier Sekuritas)
-Umar Mengawakili dari Polri
-Arven Marta (Direktur Eksekutif  BAKORNAS LEMI HMI)

Kata sambutan Bapak Umar mengatakan Polri lebih mentitik beratkan untuk keamanan terutaman untuk menkedepankan persuasif yang ada di lapangan dan seandainya ada oknum yang akan mengacaukan Polri akan menjaga kestabilitas keamanan ibu kota pada hari pelantikan Presiden dan Wakil Presiden RI.

SENGKETA di Laut China Selatan (LCS) antara negara-negara ASEAN dengan China cukup mewanti-wanti masa depan ASEAN. Meski masalah itu tenggelam karena makin mesranya kerja sama perdagangan ASEAN-China, tapi diam-diam hal tersebut bisa menjadi bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak. Sebab, kawasan LCS kaya minyak dan bahan tambang.

Dalam hal ini, Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN sudah sepatutnya bersikap tegas dan bisa mengambil peran menguntungkan yang saling menguntungkan tanpa mencederai kerja sama internasional.

Memang, instabilitas kawasan LCS yang tengah dipersoalkan China, Filipina, Brunei dan Vietnam cukup mengancam kemesraan kerja sama yang sudah dijalin. Masing-masing pihak merasa berhak dan mengklaim itu adalah wilayahnya. Bahkan Filipina menggalang kerja sama militer dengan AS, saingan berat China. Tentu, jangan sampai masalah LCS berdampak pada semakin kokohnya negara besar lain yang memang selalu mengintip celah untuk ikut membuat keruh suasana dan mengambil untung.

Sejak zaman purba, hubungan antara Indonesia, negara-negara ASEAN dan China sudah terjalin erat baik ekonomi, sosial-budaya maupun militer. Seiring perkembangan zaman, perlahan kerja sama masing-masing negara diperluas ke negara-negara lain berdasarkan kepentingan dan latar belakang historisnya.

Contoh, Filipina, Singapura yang lebih condong ke Amerika Serikat, Malaysia yang lebih dekat ke Inggris. Namun, bagi Indonesia, kerja sama tersebut hendaklah disikapi dengan elegan agar tidak sekadar ikut-ikutan apalagi sampai mengorbankan kepentingan nasionalnya tetap pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Meskipun Indonesia juga terseret pada kemelut LCS, seperti di Ambalat dengan Malaysia, kepulauan Miangas dengan Filipina, perbatasan darat dengan Papua Nugini, Malaysia dan perbatasan laut dengan Singapura, Australia, tapi Indonesia tidak boleh mengalah dan harus menegakkan keutuhan NKRI. Kerja sama ekonomi tetap berlanjut dan semakin erat, tapi kalau menyinggung keutuhan NKRI harus tegas. Jangan sampai kasus Sipadan dan Ligitan terulang kembali.

Menyikapi kemelut di LCS, bahkan antara China-Jepang terkait Pulau Senkaku/Diayu, Jepang-Korsel terkait Pulau Dokdo hingga masing-masing negara menerapkan zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) dan semakin memanaskan suasana kawasan, Indonesia harus menjadi penengah dan berdiri netral sekaligus mengamankan kepentingan ekonomi dan politiknya, jangan sampai terseret gara-gara perselisihan kawasan.

Instabilitas tersebut tidak akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi Indonesia jika Indonesia berdiri netral dan tidak ikut-ikutan, kecuali saat mengamankan keutuhan NKRI. Kerja sama ekonomi yang erat antara Indonesia dengan negara-negara ASEAN, Jepang, China, Korsel tidak boleh luntur gara-gara instabilitas kawasan yang makin memanas.

Melihat kondisi rakyatnya yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan, harusnya Indonesia menjalin kerja sama lebih erat lagi baik di bidang ekonomi, dagang, pendidikan maupun pelatihan keterampilan. ASEAN Free Trade yang akan berlaku tahun 2014 dan ASEAN Economy Community (AEC) atau Komunitas Masyarakat ASEAN yang mengintegrasikan ekonomi kawasan ASEAN pada 2015, harusnya menjadi cambuk bagi Indonesia untuk berbenah di segala bidang. Karena, pasar bebas yang akan diterapkan bisa jadi lebih berbahaya ketimbang instabilitas kawasan bila Indonesia tidak punya persiapan apa-apa.

Kemelut LCS antara negara-negara ASEAN-China, perselisihan di antara China-Jepang-Korsel, patut dijadikan momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan dirinya sebagai penengah netral dan mengajak untuk bersatu sesama negara kawasan membicarakan kerja sama yang lebih menguntungkan, ketimbang menghabiskan energi dan pikiran untuk terus berselisih dan mengundang intervensi pihak luar yang memang mencari untung di air keruh.

Indonesia bisa mengambil peran karena status sebagai negara besar dan punya kepentingan besar ekonomi yang menguntungkan rakyatnya. Bila instabilitas kawasan berlarut-larut, dampaknya akan sangat merugikan ekonomi Indonesia dan negara-negara yang bersengketa. Bukan kemajuan ekonomi dan hidup nyaman yang dinikmati, malah kerugian dan rasa was-was yang tak kunjung habis. Oleh sebab itu, kawasan ASEAN harus menjadi contoh bagi dunia sebagai tempat nyaman, aman dan memiliki atmosfer ekonomi positif, dan Indonesia bisa berinisiatif menggerakkan semua itu.

About admin

Check Also

Forum Jurnalis Merah Putih Ngopi Pas Para Wartawan Tema: “Dinamika Politik Jelang Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 20 Oktober 2019”

Kabarindotimur.id-Jakarta,2 Oktober 2019- Forum Jurnalis Merah Putih Ngopi Pas Para Wartawan Tema: “Dinamika Politik Jelang …