Home / Musik & Film / Dewa Budjana : Mahandini

Dewa Budjana : Mahandini

Kabarindotimur.id-Jakarta,10 Desember 2018-Sejak tahun 2002, sejumlah album Dewa Budjana dibuat di Amerika Serikat dengan berkolaborasi dengan musisi AS. Pada album ke 10 bertajuk Mahandini ini ia juga bekerjasama dengan musisi dan penyanyi yang sudah punya nama di pentas musik. Mereka adalah Jordan Rudess (Keyboards), Marco Minnemann (Drums), Mohini Dey (bass, konokol), Mike Stem (guitar), John Frusciante (vokal), Soimah Pancawati (vokal)

Jordan Rudess adalah pemain keyboards dari Dream Theater. Marco Minnemann, drummer kelahiran Jerman yang cenderung bermain metal sampai rock progresif. John Frusciante, vokalis, gitaris yang pemah bergabung dengan Red Hot Chilli Peppers. “Ini termasuk hal unik dalam kedekatan saya dgn John Frusciante. Karena jarang ada yang bisa ngajak dia kerja bareng,” kata Budjana.

Kemudian ada Mike Stern, gitaris jazz yang pemah mendukung legenda jazz Miles Davis. Serta Soimah Pancawati, pesinden “kontemporer” dari Yogyakarta yang pemah punya acara Trans TV. Mohini Dey pemain bas muda 22 tahun asal India yang boleh dibilang sedang naik daun di pelataran musik dunia. Dia antara lain pernah bermain dengan drummer Dave Weckl, dan sepanggung dengan bassist kondang John Patitucci serta Abraham Laboriel.

Komposisi musisi yang yang terlibat memang unik. Mereka berasal dari beragam latar belakang genre musik: jazz, rock, metal, progresif rock, dan karawitan jawa. Mereka masing-masing mempunyai pengalaman dan jam terbang tinggi dari kelompok musik yang pernah mereka dukung, Jordan Rudess dari Dream Theater, Red Hot Chilli Peppers, sampai Dave Weckl dari kelompok jazz sekelas Miles Davis. Mereka datang dari latar budaya yang berbeda pula Amerika Serikat, Jennan, India, Bali, Jawa. Pertemuan lintas genre, dan budaya yang beragam ini sedikit banyak mempengaruhi warna album Mahandini.

Sejak 2002 Budjana membuat rekaman dengan musisi jazz AS seperti Peter Erskine, Jimmy Johnson, Vinnie Colaiuta, Tony Levin, Gary Husband, Antonio Sanchez, Jack deJohnette. Kali ini pengen beda aja, gimana jadinya komposisi-komposisi saya direspons oleh musisi prog rock. Berbeda dengan album sebelumnya, di album ini ada beberapa lagu yang Vocal dan karakter musiknya lebih keras,” kata Budjana.

Mencari-cari atau Pencarian? Kenapa musisi asing, apakah ada unsur gengsi? “Ini bukan golek-golek (mencar-cari), tapi lebih ke pencarian, bukan gengsi-gengsian..” kata Budjana.

Golek-golek atau mencari-cari hanyalah sensasi, atau mengejar “wah” semata. Budjana juga tidak asal comot musisi bule. la mempertimbangkan musisi berkelas. “Sekalian juga saya ingin belajar dari mereka.”

Budjana berkolaborasi dengan musisi tersebut karena ia ingin mencari tantangan kreatif. la ingin menjajal wilayah estetik yang ditawarkan oleh seniman yang ia ajak bermain bareng. Boleh dikatakan, antara Budjana dan musisi kawan mainnya itu saling menawarkan kemungkinan kreatif. Dengan latar belakang yang berbeda-beda masing-masing seniman menginterpretasi komposisi karya Budjana.

Album direkam dengan format live di Los Angeles. Kemudian ada penambahan overdub satu lagu oleh Mike Stem pada gitar. Juga penambahan vocal Soimah yang menyanyikan satu lagu “Hyang Giri” karya Budjana, dengan lirik yang ditulis Soimah. “Hyang Giri” atau Sang Gunung bertutur tentang kebesaran Gunung-gunung di Tanah Air kita.

Proses album ini adalah sebagai sebagai berikut. Budjana mengirim notasi, dan sample musik ke masing-masing musisi. Dari situ, mereka sudah mempunyai bayangan tentang komposisi Budjana. “Setelah itu kita ketemu di studio langsung jreng..”

Yang terjadi selebihnya adalah penemuan, dialog, Budjana dengan masingmasing musisi tersebut dengan bahasa musik, langsung di studio. Mereka merekam secara live, dan seluruh rekaman hams selesai dalam waktu sehari karena “argo” studio berlalu. Artinya, jam terbang sangat berperan dalam proses rekaman. Diperlukan kesungguhan, konsentrasi, dan spontanitas agar dialog atau komunikasi antar seniman dengan bahasa musik itu nyambung.

Budjana mengaku selalu ada kejutan dari penemuan dengan masing-masing musisi itu. Apa yang ia rancang di atas kertas, akan menghasilkan music yang tidak la duga sebelumnya. Biasanya, dari pengalaman selama ini, yang paling mengejutkan itu datang dari drum.

“Yang aku bikin di bayanganku itu akan menjadi kejutan baru. Interpretasi mereka bisa sangat berbeda. Di situ kerasa banget berbeda dengan ekspektasi. Dan itulah yang aku pengen,” kata Budjana.

Itulah musik: komunikasi antar rasa. Bukan sekadar yang tertulis di notasi, tapi juga apa yang tergambar di benak dan rasa musisi saat bermain bersama. Masing-masing musisi saling mendengar dan merespons secara spontan. Mereka merespons materi yang sama dengan ekspresi personal masing-masing. Dan itulah makna kolaborasi dalam album-album Budjana, termasuk Mahandini.

Apa dan Mengapa Mahandini

“Mahandini” merupakan gabungan dari dua kata yaitu maha dan nandini. Maha berarti besar, dan nandini adalah kendaraan, dalam hal ini adalah sapi kendaraan dewa Syiwa. Mahandini bias dianikan sebagai kendaraan yang maha, atau besar. Kendaraan dalam konteks album ini adalah musisi dengan nama besar seperti Jordan, Marco, Soimah, Mohini, Mike Stem, F rusciante.

“Semoga album Mahandini sesuai dgn namanya, kendaraan yang maha, bisa berjalan dan berpengaruh ke semua telinga yang mendengar, dan segala perbedaan suku, genre di album ini bisa jadi contoh keharmonisan manusia,” kata Budjana.

Produser album Mahandini adalah Dewa Budjana sendiri. Serta Jimmy Haslip untuk 2 lagu. Sebagai Excecutive Producer adalah Lemmy Ibrahim dan Djundi Karjadi. Di Indonesia album ini bias didapatkan via Bukalapak, di USA via Moonjune records, di Jepang via King Records, di Eropa khusus Vinyl via F22 Freiland. Dan tentunya di semua digital platform.

Mahandini diluncurkan di Jakarta 10 Desember 2018, dan pada 20 Desember di Sangkring Art Space, Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Khusus untuk peluncuran di Yogyayakra, peluncuran akan disertai pameran seni rupa karya 55 perupa. Mereka merespons ide yang mendasari album.

About admin

Check Also

Film Pertama di Indonesia”Pohon Terkenal”Produksi Divisi Humas POLRI

Film Layar lebar Produksi Divisi Humas Polri SUTRADARA : Monty Tiwa& Annisa Meuthia Pemain : …